Universitas Muhammadiyah Purwokerto vol.4 2023
Hubungan Postur Kerja dan Karakteristik Individu dengan
Keluhan Muskuloskeletal pada Operator Welding
PT. Barata Indonesia Cilegon
The Relationship between Work Posture and Individual Characteristics with Musculoskeletal
Complaints in Welding Operators at PT. Barata Indonesia Cilegon
Dublin Core
Title
Universitas Muhammadiyah Purwokerto vol.4 2023
Hubungan Postur Kerja dan Karakteristik Individu dengan
Keluhan Muskuloskeletal pada Operator Welding
PT. Barata Indonesia Cilegon
The Relationship between Work Posture and Individual Characteristics with Musculoskeletal
Complaints in Welding Operators at PT. Barata Indonesia Cilegon
Hubungan Postur Kerja dan Karakteristik Individu dengan
Keluhan Muskuloskeletal pada Operator Welding
PT. Barata Indonesia Cilegon
The Relationship between Work Posture and Individual Characteristics with Musculoskeletal
Complaints in Welding Operators at PT. Barata Indonesia Cilegon
Subject
Keluhan Muskuloskeletal,
Postur Kerja, Karakteristik
Individu
Postur Kerja, Karakteristik
Individu
Description
1. PENDAHULUAN
Industri manufaktur merupakan sektor industri yang memiliki kontribusi besar dalam perekonomian
Indonesia. Salah satu kegiatan yang tak luput kaitannya dengan industri manufaktur yaitu kegiatan
penyambungan logam melalui teknik pengelasan. Proses pengelasan dilakukan dengan posisi tertentu tergantung
dari letak celah benda yang akan dilas. Letak celah yang beragam seringkali menyebabkan operator welding
melakukan pekerjaanya dengan postur tidak ergonomis seperti postur tubuh memuntir, kaki tertekuk, punggung
terlalu membungkuk serta leher yang terlalu menunduk. Postur kerja tidak ergonmois dan dilakukan dalam
ISSN: 2808-1021
Proceedings homepage: https://conferenceproceedings.ump.ac.id/index.php/pshms/issue/view/19
42
durasi yang lama serta berulang-ulang dapat menyebabkan timbulnya keluhan muskuloskeletal (Fatejarum &
Susianti, 2018). Keluhan muskuloskeletal merupakan keluhan yang dirasakan pada otot rangka mulai dari
keluhan ringan sampai keluhan sangat sakit (Tarwaka, 2019).
Salah satu permasalahan ergonomi yang umum ditemui khususnya yang berkaitan dengan ketahanan dan
kekuatan individu dalam melaksanakan pekerjaanya adalah keluhan musculoskeletal disorders (Kurnianto,
2018). Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2003, menyebutkan prevalensi
musculoskeletal disorders dari semua penyakit akibat kerja mencapai 60% Labour Force Survey dalam
Summary Statistics For Great Britain 2021 menyebutkan bahwa 470.000 pekerja di Inggris Raya menderita
musculoskeletal disorders. Di Indonesia sendiri berdasarkan data yang dilaporkan Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia pada tahun 2013, jumlah kasus penyakit musculoskeletal disorders yang didiagnosis tenaga
kesehatan sebesar 11,9% dan berdasarkan diagnosis atau gejala yaitu 24,7%. Penelitian yang dilakukan oleh
Jalajuwita & Paskarini (2015) pada unit pengelasan di PT.X Bekasi, menunjukkan bahwa adanya hubungan
yang signifikan antara postur kerj dengan musculoskeletal disorders, dengan mayoritas responden melakukan
pekerjaan dengan risiko postur kerja sedang. Dalam penelitian ini variabel bebas yang diuji tidak hanya faktor
pekerjaan (postur kerja). melainkan karakteristik individu yang terdiri dari usia, indeks massa tubuh dan masa
kerja juga turut diujikan.
PT. Barata Indonesia Cilegon merupakan industri manufaktur yang memproduksi komponen turbin.
Dalam pelaksanaan proses produksi, terdapat kegiatan pengelasan yang dilakukan oleh operator welding.
Operator welding PT. Barata Indonesia Cilegon melakukan pekerjaanya dengan postur duduk atau berdiri yang
statis dan seringkali disertai postur punggung terlalu membungkuk, kaki yang tertekuk ataupun tidak tertopang
dengan baik dan leher yang terlalu menunduk atau mendongak. Selain faktor pekerjaan, karakteristik individu
dan faktor lingkungan merupakan faktor lainnya yang dapat menjadi penyebab timbulnya keluhan
muskuloskeletal (Koffiyah et al., 2019). Hasil survey pendahuluan terhadap 10 operator welding PT. Barata
Indonesia Cilegon menunjukkan bahwa 80% operator welding mengalami keluhan sedang dan 20% lainnya
mengalami keluhan muskuloskeletal kategori tinggi.
Dari latar belakang tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian terkait postur kerja dan karakteristik
individu (usia, masa kerja dan indeks massa tubuh) dengan keluhan muskuloskeletal pada operator welding di
PT Barata Indonesia Cilegon.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan jenis observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel
dalam penelitian ini diambil dari populasi operator welding PT. Barata Indonesia Cilegon dengan menggunakan
total sampling sebagai teknik sampling, sehingga didapatkan sampel penelitian sebanyak 40 orang. Variabel
bebas terdiri dari postur kerja dan karakteristik individu yang meliputi usia, indeks massa tubuh. Metode REBA
digunakan sebagai alat penlaian postur kerja dan kuesioner Nordic Body Map untuk menilai tingkat keluhan
muskuloskeletal yang dialami. Data karakteristik individu didapatkan dari wawancara singkat dengan responden
penelitian. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Somers’d dan analisis multivariat menggunakan uji
regresi logistik ordinal.
3. HASIL PENELITIAN
Berikut ini hasil analisis dalam penelitian ini :
1. Analisis Uniariat
Hasil pada Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas (60%) operator welding melakukan pekerjaanya
dengan risiko postur kerja sedang. Sebanyak 67,5% operator welding telah berusia ≥ 35 tahun. Kategori IMT
yang paling sedikit yaitu pada kategori kurus (10%). Kebanyakan operator welding telah bekerja ≥ 5 tahun dan
sebanyak 50% operator welding PT Barata Indonesia Cilegon mengalami keluhan muskuloskeletal pada
kategori sedang.
2. Analisis Bivariat
Tabel 2 menunjukkan hasil analisis bivariat antara postur kerja dengan keluhan muskuloskeletal yang
dialami operator welding PT. Barata Indonesia Cilegon, dimana terdapat hubungan anatar postur kerja dengan
keluhan muskuloskeletal (p value=0,002) dengan kekuatan hubungan sedang dan arah korelasi positif (+).
Hasil uji hubungan yang sama juga ditujukkan pada variabel usia dengan keluhan muskuloskeletal,
dimana usia berhubungan dengan keluhan muskuloskeletal dengan p value 0,001 dan kekuatan hubungan kuat
serta arah korelasi positif (+).
Hasil uji Somers’d pada variabel indeks massa tubuh dan keluhan muskuloskeletal menunjukkan adanya
hubungan antara kedua variabel tersebut dengan p value 0,000 dan kekuatan hubungan lemah serta arah korelasi
positif (+).
Industri manufaktur merupakan sektor industri yang memiliki kontribusi besar dalam perekonomian
Indonesia. Salah satu kegiatan yang tak luput kaitannya dengan industri manufaktur yaitu kegiatan
penyambungan logam melalui teknik pengelasan. Proses pengelasan dilakukan dengan posisi tertentu tergantung
dari letak celah benda yang akan dilas. Letak celah yang beragam seringkali menyebabkan operator welding
melakukan pekerjaanya dengan postur tidak ergonomis seperti postur tubuh memuntir, kaki tertekuk, punggung
terlalu membungkuk serta leher yang terlalu menunduk. Postur kerja tidak ergonmois dan dilakukan dalam
ISSN: 2808-1021
Proceedings homepage: https://conferenceproceedings.ump.ac.id/index.php/pshms/issue/view/19
42
durasi yang lama serta berulang-ulang dapat menyebabkan timbulnya keluhan muskuloskeletal (Fatejarum &
Susianti, 2018). Keluhan muskuloskeletal merupakan keluhan yang dirasakan pada otot rangka mulai dari
keluhan ringan sampai keluhan sangat sakit (Tarwaka, 2019).
Salah satu permasalahan ergonomi yang umum ditemui khususnya yang berkaitan dengan ketahanan dan
kekuatan individu dalam melaksanakan pekerjaanya adalah keluhan musculoskeletal disorders (Kurnianto,
2018). Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2003, menyebutkan prevalensi
musculoskeletal disorders dari semua penyakit akibat kerja mencapai 60% Labour Force Survey dalam
Summary Statistics For Great Britain 2021 menyebutkan bahwa 470.000 pekerja di Inggris Raya menderita
musculoskeletal disorders. Di Indonesia sendiri berdasarkan data yang dilaporkan Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia pada tahun 2013, jumlah kasus penyakit musculoskeletal disorders yang didiagnosis tenaga
kesehatan sebesar 11,9% dan berdasarkan diagnosis atau gejala yaitu 24,7%. Penelitian yang dilakukan oleh
Jalajuwita & Paskarini (2015) pada unit pengelasan di PT.X Bekasi, menunjukkan bahwa adanya hubungan
yang signifikan antara postur kerj dengan musculoskeletal disorders, dengan mayoritas responden melakukan
pekerjaan dengan risiko postur kerja sedang. Dalam penelitian ini variabel bebas yang diuji tidak hanya faktor
pekerjaan (postur kerja). melainkan karakteristik individu yang terdiri dari usia, indeks massa tubuh dan masa
kerja juga turut diujikan.
PT. Barata Indonesia Cilegon merupakan industri manufaktur yang memproduksi komponen turbin.
Dalam pelaksanaan proses produksi, terdapat kegiatan pengelasan yang dilakukan oleh operator welding.
Operator welding PT. Barata Indonesia Cilegon melakukan pekerjaanya dengan postur duduk atau berdiri yang
statis dan seringkali disertai postur punggung terlalu membungkuk, kaki yang tertekuk ataupun tidak tertopang
dengan baik dan leher yang terlalu menunduk atau mendongak. Selain faktor pekerjaan, karakteristik individu
dan faktor lingkungan merupakan faktor lainnya yang dapat menjadi penyebab timbulnya keluhan
muskuloskeletal (Koffiyah et al., 2019). Hasil survey pendahuluan terhadap 10 operator welding PT. Barata
Indonesia Cilegon menunjukkan bahwa 80% operator welding mengalami keluhan sedang dan 20% lainnya
mengalami keluhan muskuloskeletal kategori tinggi.
Dari latar belakang tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian terkait postur kerja dan karakteristik
individu (usia, masa kerja dan indeks massa tubuh) dengan keluhan muskuloskeletal pada operator welding di
PT Barata Indonesia Cilegon.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan jenis observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel
dalam penelitian ini diambil dari populasi operator welding PT. Barata Indonesia Cilegon dengan menggunakan
total sampling sebagai teknik sampling, sehingga didapatkan sampel penelitian sebanyak 40 orang. Variabel
bebas terdiri dari postur kerja dan karakteristik individu yang meliputi usia, indeks massa tubuh. Metode REBA
digunakan sebagai alat penlaian postur kerja dan kuesioner Nordic Body Map untuk menilai tingkat keluhan
muskuloskeletal yang dialami. Data karakteristik individu didapatkan dari wawancara singkat dengan responden
penelitian. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Somers’d dan analisis multivariat menggunakan uji
regresi logistik ordinal.
3. HASIL PENELITIAN
Berikut ini hasil analisis dalam penelitian ini :
1. Analisis Uniariat
Hasil pada Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas (60%) operator welding melakukan pekerjaanya
dengan risiko postur kerja sedang. Sebanyak 67,5% operator welding telah berusia ≥ 35 tahun. Kategori IMT
yang paling sedikit yaitu pada kategori kurus (10%). Kebanyakan operator welding telah bekerja ≥ 5 tahun dan
sebanyak 50% operator welding PT Barata Indonesia Cilegon mengalami keluhan muskuloskeletal pada
kategori sedang.
2. Analisis Bivariat
Tabel 2 menunjukkan hasil analisis bivariat antara postur kerja dengan keluhan muskuloskeletal yang
dialami operator welding PT. Barata Indonesia Cilegon, dimana terdapat hubungan anatar postur kerja dengan
keluhan muskuloskeletal (p value=0,002) dengan kekuatan hubungan sedang dan arah korelasi positif (+).
Hasil uji hubungan yang sama juga ditujukkan pada variabel usia dengan keluhan muskuloskeletal,
dimana usia berhubungan dengan keluhan muskuloskeletal dengan p value 0,001 dan kekuatan hubungan kuat
serta arah korelasi positif (+).
Hasil uji Somers’d pada variabel indeks massa tubuh dan keluhan muskuloskeletal menunjukkan adanya
hubungan antara kedua variabel tersebut dengan p value 0,000 dan kekuatan hubungan lemah serta arah korelasi
positif (+).
Creator
Alyza Imens1
, Seviana Rinawati2
, Heni Hastuti3
, Seviana Rinawati2
, Heni Hastuti3
Source
https://conferenceproceedings.ump.ac.id/index.php/pshms/issue/view/19
Publisher
UMP PRESS
Format
PDF
Language
INDONESIA
Type
TEXT
Files
Citation
Alyza Imens1
, Seviana Rinawati2
, Heni Hastuti3, “Universitas Muhammadiyah Purwokerto vol.4 2023
Hubungan Postur Kerja dan Karakteristik Individu dengan
Keluhan Muskuloskeletal pada Operator Welding
PT. Barata Indonesia Cilegon
The Relationship between Work Posture and Individual Characteristics with Musculoskeletal
Complaints in Welding Operators at PT. Barata Indonesia Cilegon,” Repository Horizon University Indonesia, accessed April 4, 2025, https://repository.horizon.ac.id/items/show/548.
Hubungan Postur Kerja dan Karakteristik Individu dengan
Keluhan Muskuloskeletal pada Operator Welding
PT. Barata Indonesia Cilegon
The Relationship between Work Posture and Individual Characteristics with Musculoskeletal
Complaints in Welding Operators at PT. Barata Indonesia Cilegon,” Repository Horizon University Indonesia, accessed April 4, 2025, https://repository.horizon.ac.id/items/show/548.